Ketahanan pangan dan social enterpris

 Majalah The econimist pernah menulis ada tiga sumber konflik di masa mendatang, yaitu : PANGAN, AIR, ENERGI. Kelangkaan (availability) kepada ketiganya, sulitnya mengakses (accesibility) sumber sumber kehidupan tersebut, akan menimbulkan instabilitas sosial politik. Pandemi covid 19, perang dan lainnya telah membuktikan ketahanan pangan nasional setiap negara, merupakan fondasi kemandirian pangan dan stabilitas negara. Untuk itu KETAHANAN PANGAN adalah kondisi terpenuhinya ( kecukupan) pangan dan akses pangan untuk semua orang. Dalam membangun ketahanan pangan, ada rantai proses dan rantai nilai yang panjang, yang menyangkut sistem pangan (food system) sebagai pondasinya. Pada konteks ini salah satu elemen yang di yakini sangat strategis dalam membantu memperkuat ketahanan pangan nasional adalah social enterprise. Dengan sifat sifat sosialnya yang tinggi dengan kelenturan dalam berbaur di tengah masyarakat, dengan ketekunannya dalam membangkitkan potensi lokal secara inklusif. Social enterprise bisa turut berperan membangun pilar pilar ketahanan pangan sehingga masyarakat memiliki kecukupan serta akses pada pangan secara mandiri dan memadai. Dikatakan bisa berperan di ranah masing-masing karena untuk menciptakan ketahanan pangan, mereka dapat berkontribusi dalam sebuah food system, sesuai dengan kapasitas serta kapabalitasnya masing-masing. Konsep food system itu sendiri secara sederhana bermakna aktivitas yang runut, dari hulu hingga hilir dalam aktivitas seputar pangan. Mulai dari titik produksi (food production), pemrosesan, distribusi, marketing, preparation (persiapan), konsumsi, hingga pembuangan (disposal) pangan. Ujung dari semua aktivitas ini adalah empat pilar ketahanan pangan :stability, availability, accesibility, utilization. Makna sederhananya stability adalah keadaan sistem pangan yang baik agar bahan pangan dapat di peroleh sepanjang waktu ( stabil). Availability artinya ketersediaan bahan pangan yang cukup untuk kebutuhan dasar. Accesibility adalah kemampuan mengakses sumber daya, secara ekonomi maupun fisik untuk mendapatkan bahan pangan bernutrisi. Utilization yakni kemampuan memanfaatkan bahan pangan dengan benar, tepat, serta proporsional. Social enterprise bisa bermain di titik titik yang ada dalam food system tersebut, sesuai dengan kapasitas dan Kapabalitasnya agar turut membangun pilar pilar ketahanan pangan. Di tengah korporatisme yang dari waktu ke waktu di tenggarai terlalu kapitalis, yang menempatkan pencarian dan penumpukan laba sebagai panglimanya. Social enterprise semakin dikenal serta di akui memberikan jalur berbeda, sekaligus harapan bahwa masih ada jalan lain dalamberbisnis serta menciptakan nilai untuk kebaikan stake holders, bukan hanya share holders. Pasalnya dalam sebuah social enterprise , ada keseimbangan antara pencarian laba dengan misi sosial. Bahkan misi sosialnya yakni menyelesaikan persoalan yang ada di sekitar masyarakat ( social gap) menjadi alasan utama (raison d'etre) berdirinya sebuah social enterprise, dengan tidak melupakan laba demi keberlanjutan hidup organisasi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KPM Desa

Program pekarangan bergisi